Pakaian Potongan dan Cerah, bukan style Akhwat Salaf?

 - 

Acapkali saya dikira hizbi atau haroki oleh beberapa orang yang baru saya kenal hanya karena gaya berpakaian saya yang sering memakai pakaian potongan (ada atasan dan ada bawahan), berwarna cerah dan jilbab segi 4. Padahal yang saya tahu, syariat tidak melarang selama pakaian tersebut memenuhi ketentuan menutup aurat yang syari seperti: tidak ketat, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, tidak tipis atau transparan, dan tertutup hingga menutup ke dada.

Tapi mengapa masih ada yang beranggapan bahwa pakaian potongan tidak syari atau bukan style-nya akhwat salaf. Bahkan ada teman saya sendiri yang bilang ke saya secara tersirat tentunya, bahwa pakaian akhwat salaf itu harus gamis dan jilbab jubah, gelap, jikalau memakai pakaian potongan itu hanya karena tuntutan pekerjaan saja. Mungkinkah ke-salafian seseorang hanya bisa diukur dari pakaian potongannya, warnanya yang cerah atau jilbab segi 4-nya semata?

Ada lagi yang beranggapan bahwa warna hitam adalah tolak ukur muslimah yang bermanhaj salaf. Artinya jika warna pakaian seorang muslimah bukan hitam maka dia bukan muslimah salafiyyah (muslimah yang bermanhaj salaf).

Yah, coba saja perhatikan transformasi dari Aw Karin Novilda yang ceritanya bisa kamu baca di Dagelan.co . Kita bisa belajar banyak dari situ.

Well, al-ilmu qobla qoul wal amal, untuk berkata dan beramal tentunya harus di dasari ilmunya toh. Jangan hanya karena melihat penampilan pada umumnya belaka.

Masing-masing orang memiliki pembelajaran sendiri-sendiri berdasarkan pengalaman yang mereka dapatkan selama hidup. Setiap orang juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Amat disayangkan jika kita hanya menilai orang dari luar saja. Alangkah baiknya jika kita fokus pada membenahi diri kita sendiri sebelum menilai orang lain.

Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa. Kehidupan setiap orang bisa berubah 180 derajat, dari yang baik menjadi tidak baik, dan dari yang tidak baik menjadi orang yang baik. Kita doakan saja semoga kita menjadi salah satu golongan orang-orang yang terus melakukan instrospeksi diri, dan melakukan perubahan positif selama hidup kita ke depannya.

Wallahu a’lam.

 

In Curhat

Mengembalikan Jati Diri Bangsa

 - 

Pada masa perjuangan kemerdekaan, Indonesia merupakan nama istilah ilmiah yang meliputi berbagai etnis, suku, agama dan secara geografi mempunyai banyak kepulauan. Nama indonesia diusung oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Hal semacam itu sebenarnya dapat dijadikan pedoman dalam usaha mengembalikan jati diri bangsa.

Dalam mengembalikan jati diri bangsa Indonesia dibangun dengan semangat persatuan dan kesatuan dari sabang sampai merauke, serta rasa solidaritas sosial sebagai anak bangsa. Dalam proses pembangunan bangsa sampai masa sekarang ini sedikit banyak malah terjadi perubahan sikap terhadap nilai–nilai persatuan dan kesatuan. Perubahan sistem nilai persatuan dan kesatuan yang membawa pula dalam hubungan interaksi pribadi dalam masyarakatnya.

Kini kita juga mengalami krisis akhlak dan moral yang mempunyai dampak berkelanjutan sampai dengan hari ini. Kelakuan korupsi para pejabat negeri ini semakin merajalela dan tanpa rasa malu, kepentingan pribadi dan kelompok cenderung diutamakan yang mengalahkan identitas bangsa, dan juga kemauan golongan semakin menjadi prioritas utama. Krisis ini menyangkut masalah hati nurani yang mencerminkan adanya masalah karakter, bahkan dapat dikatakan kita sedang mengalami krisis jati diri bangsa.

Munculnya terorisme, yang dipicu oleh gerakan radikalisme kelompok-kelompok separatisme dan kedaerahan (primodialisme) membuat bangsa ini semakin terpuruk. Dengan alasan agama gerakan radikalisme semakin tumbuh berkembang. Kita sebenarnya sepakat tidak menyetujui bahkan mengutuk peperangan yang dilakukan dunia barat di timur tengah. Akan tetapi apakah itu dapat dijadikan alasan untuk menghakimi sekelompok masyarakat barat di negara ini. Malahan hal itu bisa menghancurkan bangsa kita di dunia internasional.

Malahan baru-baru ini klaim negara tetangga yang menggunakan kebudayaan indonesia mengisaratkan kita bahwa pembangunan jati diri bangsa ini semakin melemah. Mereka dengan remehnya mengkomersilkan warisan budaya kita yang turun-temurun seharusnya wajib kita jaga dan lestarikan.

Dalam kondisi semacam itu sekarang ini, bangsa Indonesia sebenarnya tetap yakin bahwa persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa solidaritas sosial tetap bisa dipertahankan di negeri ini, sebab bangsa kita memang didirikan berdasar falsafah keberagaman, atas dasar rasa penderitaan yang sama akibat penjajahan asing ratusan tahun (sumpah pemuda 1928). Dengan demikian dasar berdirinya bangsa ini adalah keberagaman masyarakat dengan semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”.

Sebagai modal dasar bangsa Indonesia untuk mengembalikan jati diri bangsa adalah nilai-nilai dasar yang telah menjadi kesepakatan final, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, Wawasan Nusantara dan ketahanan nasional. Pengelolaan kebinekaan di dalam diri kita dengan artian penempatan keanekaragaman secara proporsional dan membangun semangat dan tekad bersatu dari sabang sampai merauke, sedikit banyak dapat membantu dalam mengembalikan jati diri bangsa yang seutuhnya. Dalam sistem kenegaraan Jati diri bangsa dapat terbentuk melalui contoh perilaku para pemimpin-pemimpin bangsa yang tangguh dan bermoral baik, yang mempunyai semangat perubahan, berwawasan global serta tetap memiliki semangat kebangsaan dan negarawan yang kuat.

Kita sebagai generasi muda seharusnya tampil dalam pembangunan jati diri dan siap menjadi pribadi yang berkarakter, siap menggemakan semangat bangkit dari keterpurukkan, siap menggelorakan semangat Sumpah Pemuda yang berarti diwujudkan dalam pengembangan karakter dan jati diri bangsa secara nyata sebagai upaya menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk kemudian menjadi bangsa yang maju dan merdeka dalam arti yang sebenar-benarnya.

In Sukses

2 Tahun Sudah Blog ini…

 - 

Banyak sekali hal2 positif dan negatif yang aku alami dan rasakan. Aku bersyukur, sekitar Februari 2009 silam membeli domain disini sehingga aku bisa mengumpulkan beberapa tulisanku dan curhatanku di web ini. Tentu, sebagai blogger aku pun sama seperti yang lain, mengalami masa-masa kejenuhan dan rasa bosan untuk menulis hingga pernah mengalami hibernasi beberapa waktu lamanya. Bagiku itu hal yang wajar, ibarat seorang pegawai yang menjalani rutinitasnya pastilah menghadapi masa-masa jenuh ini. Justru dengan istirahat sebentar dari dunia menulis, akan membuat ide-ide segar dan inspirasi baru berkelebat di dalam otak. Meski tidak semua ide tersebut tertuang dalam sebuah tulisan.

Aku juga senang menjadi blogger, selain menambah teman-teman di dunia maya, akupun banyak sekali belajar dari mereka, dari tulisan mereka yang penuh gairah dan semangat, tak jarang hanya membaca tulisan dari seseorang yang tidak kukenal mampu memotivasi energi positif dalam diriku , merenungi setiap jejak dan tapak hidupku, hingga menambah hasratku untuk bergerak dan berbuat sesuatu. Sungguh, betapa pelajaran manis dan pahitnya samudera hidup ini bisa kita ambil dari siapapun, bahkan dari makhluk Alloh yang lemah sekalipun.

Begitu besarnya kekagumanku pada penulis-penulis muda, handal nan berbakat. Ya, membaca tulisan mereka yang sangat worthed, aku tidak menyangka awalnya bahwa jari-jemari yang menuliskan kata-kata tersebut berasal dari jari anak-anak dan remaja yang masih sangat muda sekali. MasyaAlloh, Aku pribadi baru memulai menulis di usia 21-22 tahun, tepatnya setelah lulus sarjana tahun 2014 lalu. Tidak ada kata telat selama hal2 itu lurus dan baik, bukan?

Ok, sobats, mohon doanya saja , semoga aku bisa tetap menulis dan berbagi selagi masih mampu kepada sobats ya, meski pembacanya hanya sedikit dan komentar2 yang minim, aku tidak peduli. Yang jelas, budayakan semangat menulis dan membaca jangan sampai padam  ^^

Salam hangat selalu!

In Curhat

Film Pluralisme ? Sebuah Tanda Tanya ?

 - 

Saya bukan ustadzah atau sosiolog atau budayawati yang punya latar belakang ilmu untuk menuangkan berbagai teori. Saya hanya perempuan biasa yang risau dengan kondisi masyarakat saat ini terutama pengaruh berbagai media terhadap perkembangan generasi sesudah saya. Salah satunya media sinematografi yang di dalamnyalah terkreasi film ini. Film yang resensi dan thrillernya membuat saya miris karena di dalamnya berlakon orang-orang muslim sedangkan pesan yang dibawanya sangat kental pluralisme.

Bagi saya pribadi, seorang muslim memutuskan murtad (tokoh Rika) hanyalah wujud nyata dari :

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkanNYA, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya. [Al-Qur’an Surat Al-Kahf (18) : 17]

Jika seseorang masih dalam taraf mempertimbangkan untuk murtad, nasihati dengan cara yang baik dan doakan. Jika setelah dinasihati ia tetap murtad, maka berlaku :

lakum diinukum waliya diin.. [Al-Qur’an Surat Al-Kaafiruun (109) : 6]

Boleh sedih, tidak terlalu perlu marah dan yang jelas tidak perlu anarkis. Allah sendiri yang akan menangani orang-orang seperti ini dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tindakan.

Yang lebih merisaukan saya adalah penggambaran bagaimana semestinya seorang muslim dan muslimah (dalam tokoh Surya dan Menuk) bertoleransi. Sungguh menyesatkan penggambaran ini.

Ada banyak contoh toleransi terhadap agama lain dalam Islam yang sudah dilakukan sejak jaman Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menyepakati Piagam Madinah dan banyak kesepakatan-kesepakatan lain yang beliau shalallahu alaihi wa salam rancang. Blusak blusuk ke dalam rumah ibadah agama lain sampai-sampai dengan rela ikut ritual agama mereka seperti diwakili tokoh Surya atau terlibat dalam lingkungan yang jelas-jelas memperdagangkan barang haram seperti diwakili tokoh Menuk bukan termasuk contoh yang layak diangkat sebagai bahan pembelajaran bagaimana seorang muslim harus bertoleransi terhadap umat agama lain.

Singkat kata, saya menyebutnya : kebablasan.

Justru sisi mulia toleransi Islam terhadap umat agama lain dalam bentuk yg tidak menyimpang dari syariah (yg juga adalah realita, KALAU MEMANG REALITA YANG INGIN DIANGKAT) yg belum pernah diangkat ke permukaan.

(Umat) Islam sudah cukup babak belur dilanda propaganda busuk (yg terakhir adalah kasus perempuan menghilang lalu tiba2 muncul dalam keadaan sama sekali berbeda). Jika yg menjadi alasan pengangkatan kejadian2 spt di dalam film itu adalah (cuma) mengangkat realita yg ada saat ini ke layar lebar, maka sungguh ini sama dg menggarami air laut atas propaganda busuk terhadap (umat) Islam.

Kita sudah sangat hafal dengan pemberitaan kejadian2 spt itu melalui berbagai media, mengangkatnya ke layar lebar sama dengan menunjukkan ini lho di pusat pembuangan sampah ada makanan basi.

Semoga tidak semakin banyak orang terbodohi oleh propaganda2 pluralisme dalam film2 seperti ini.


Semangat Kemerdekaan Dengan nuansa Ramadhan

 - 

Kita baru saja memperingati hari kemerdekaan. Dilihat dari segi umur bangsa kita bukan lagi seperti anak kemarin sore, yang masih bingung menentukan arah jati dirinya.

Seharusnya kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia berfikir jernih dan mengutamakan jiwa spiritual agama dalam meneruskan pembangunan yang telah diamanatkan oleh pejuang-pejuang kemerdekaan yang telah lalu.

Seperti tahun-tahun yang telah lalu, berbagai acara perlombaan yang diadakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia selalu meriah. Hal semacam itu sangat menggembirakan ditengah kondisi masyarakat kita dewasa ini sedang mengalami krisis rasa persatuan dan kesatuan, krisis mengembalikan jati diri bangsa, krisis solidaritas sosial. Ditambah lagi bangsa kita sedang mengalami keterpurukan Ekonomi, Sosial, Budaya dan Politik. Fenomena ini sangat mencolok dengan seringnya terjadi perselisihan dan pertikaian di berbagai daerah di indonesia. Masalah terorisme tidak kunjung berakhir, serta masalah klaim negara lain atas budaya kita menambah daftar panjang keterpurukan negeri ini.

HAKEKAT KEMERDEKAAN

Trus apa gunanya kita setiap tahun memperingati hari kemerdekaan?. Masihkah kita teringat perasaan ketika bangsa Indonesia berjuang mencapai kemerdekaannya. Upacara Bendera 17 Agustus, berkumandangnya lagu Indonesia Raya, detik-detik Proklamasi, mengobarkan salam merdeka, jiwa nasionalisme, acara renungan jasa para pahlawan, kegiatan tabur bunga di makam pahlawan, berkobarnya semangat persatuan dan kesatuan, perlombaan panjat pinang, lomba makan kerupuk, serta berbagai kegiatan mengisi hari kemerdekaan. Teringatkah kita akan persaudaraan sejati yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan ketika bangsa Indonesia mengusir penjajah yang telah menghabisi kekayaan Indonesia.

Kemerdekaan suatu bangsa mempunyai makna yang berarti sebuah negara tidak hanya proses pengambilalihan pemerintahan dari golongan penjajah kepada satu golongan pemerintah lain yang lebih berhak akan tetapi pada hakikatnya, kemerdekaan tanah air adalah nikmat terbesar atas limpahan karunia Allah Yang Maha Kuasa. Kemerdekaan negara merupakan kebebasan jiwa dan raga rakyatnya yang menuju nilai-nilai kebenaran dari keadaan terbelenggu oleh aturan-aturan untuk mengikuti perintah penjajah, kebebasan akal dan pikiran rakyat oleh belenggu kebodohan dan kejahilan yang menuju kecerdasan ilmu yang lebih cerah, kebebasan akal-budi rakyatnya dari keterpurukan akhlak serta pelanggaran moral dan etika yang menuju terbentuknya nilai-nilai moral murni dan berakhlak tinggi, kebebasan rakyat dari belenggu kemiskinan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.

SPIRITUAL KEMERDEKAAN

Di bulan Ramadhan ini sebenarnya kita mempunyai kesempatan merenungkan kembali arti kemerdekaan dengan hakekat yang sesungguhnya. Berpuasa di bulan ramadhan melatih kita atas kedisiplinan dan kejujuran jiwa yang dapat menggugah kita dalam mengisi kemerdekaan ini.

Sangat tepat jika bulan Ramadhan kita katakan sebagai jembatan untuk kembali meraih dan membangun nilai-nilai spiritual dalam diri kita semua yang berguna untuk pembangunan bangsa ini. Kita sebagai manusia yang beriman mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kebenaran kepada makhluk lainnya yang dianugerahkan dari Penciptanya. Karena itu, setiap manusia harus berani mempertahankan prinsip dan tanggungjawabnya secara individual.

Kita sebagai makhluk sempurna yang mempunyai hak dan kewajiban harus secara bersama-sama memperkokoh norma-norma sosial kemasyarakatan dalam rangka mengisi kemerdekaan yang telah digariskan oleh ALLAH SWT. Penolakan atas kenyataan demikian sama saja dengan menolak ketentuan yang telah dilimpahkan ALLAH SWT kepada kita sebagai amanat.

Mulai dari dalam pribadi kita masing-masing, kita wajib menata kehidupan yang sesungguhnya, bagian dari proses meneruskan cita-cita kemerdekaan. Jadi, bulan Ramadhan sesungguhnya bulan terbaik sebagai introspeksi atas apa yang telah kita perbuat kepada bangsa ini. Proses intospeksi diri ini melibatkan evaluasi diri kedalaman jiwa untuk diwujudkan kembali dalam keseharian sebagai akhlak dan perilaku mulia yang dimulai di linkungan kita. Tentunya evaluasi ini berdasarkan atas pengalaman atas semua peristiwa dan perilaku kita sebelumnya. Selain itu, evaluasi juga mencakup pemikiran untuk kehidupan berbangsa di masa depan yang lebih baik.

Dengan adanya kegiatan bersama-sama yang lebih intensif di bulan Ramadhan ini seperti sholat tarawih dan tadarus Al-Quran, kita dapat menggali kebersamaan ukhuwah antar sesama umat muslim dan non-muslim guna menghidupkan kembali rasa persatuan dan kesatuan serta rasa solidaritas sosial sebagai anak bangsa yang berbudaya dan berbudi luhur. Sehingga tidak ada lagi pemikiran-pemikiran yang mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok yang menyebabkan pembangunan dalam rangka meneruskan cita-cita kemerdekaan ini menjadi terhambat.

Semoga di bulan Ramadhan 1430 hijriah ini, kita semua dapat tergugah kembali dalam memaknai arti kemerdekaan yang sesungguhnya agar bangsa kita bisa kembali dalam semangat persatuan kesatuan yang bernuansa solidaritas sosial.

In Sukses

Aku punya ORANGTUA YANG HEBAT!

 - 

Punya kisah paling mengesankan dengan Papamu? Biasanya anak perempuan khan lebih dekat dengan Papanya. Aku melalui banyak kisah indah dengan Papaku..Sejak kecil, Papa yang lebih sering mengajakku bermain. Mama juga tapi Mama gantian harus mengurus adik2ku yang masih bayi dan membersihkan pekerjaan rumah (qt ngga punya PRT ^^)Dari main petak umpet, main boneka, dibacakan cerita, diajari banyak menulis dan membaca dllhehe..dianter jalan2 naik motor, main bom2 car, di gendong2 dipundaknya..

Wahhh banyak sekali kenangan indah masa kecilku bersama Mama dan Papaku tercinta 🙂

Meski Papa kerja hingga malam hari dan kami sudah tidur, pernah tiba2 aku terbangun dan Papa baru pulang. Mama membukakan pintu. Pertanyaan yang pertama kali dilontarkan Papa ke Mama saat pulang adalah Bagaimana keadaan anak2? Sehat? Sudah makan? Sudah pada tidur?

Sampai tiba aku sekolah, Papa rajin datang ke sekolahku, mengambil raport, pertemuan wali murid, menanyakan perkembangan dan hasil belajarku. Aku paling senang pas juara pertama bikin Papa senang.. Hingga aku lulus sekolah, Papa tanya apa cita2ku? Papa bilang akan usahakan untuk mewujudkan, Papa ingin anak2nya lebih baik dari orangtuanya yang mana dulu harus mengalami kesulitan hidup sehingga tidak bisa langsung kuliah selepas lulus sekolah, Papa baru kuliah setelah berusia 30an tahun dengan biaya hasil kerja keras sendiri. Begitupun Mama, karena nenek dan kakek susah sehingga tidak bisa kuliah dan akhirnya menikah di usia 18 tahun. Papa bilang akan kerja keras untuk membiayai kuliahku sehingga aku bisa meraih cita2 aku padahal aku tau biaya kuliah tidak sedikit, Papa bilang jangan dipikirin, aku hanya diminta belajar dan belajar saja, biar Papa yang mikir cari uang , katanyaPapa juga paling tegas dan bijak dirumah, hampir tidak pernah menunjukkan sedih apalagi menangis didepan anaknya, tapi aku melihat mata beliau berkaca2 di beberapa kesempatan. Saat aku di wisuda dan sesudah aku di wisuda aku beri pelukan hangat dan setangkai bunga mawar merah tanda sayangku ke beliauterimakasih Pa.., ada butiran kaca di mata beliau yang sudah menuayg dulu selalu mengajakku bermainAtau sesudah akad nikahku, beliau berkaca2 melepasku, memberi nasihat untuk prjalanan hidupku selanjutnya.

Gaji pertamaku yang tidak seberapa, sangat sedikit dibanding penghasilan beliau dan yang selama ini beliau telah berikan ke aku, aku kasih, beliau terima dengan rasa haru, padahal itu tak seberapabukan jumlahnya, tapi karena itu pemberianku..dan saat aku menghadiahkan dasi untuk beliau, harga murah meriah dibanding dasi2 beliau yang lain tapi itu yang paling suka beliau pake..

Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika kata2ku sampai menyakiti mereka berdua, aku pun tak bisa memaafkan diriku kalo aku sampai menyia-nyiakan mereka berdua di masa tua merekaAku pun marah kalo adikku sedang membantah perkataan orangtua..Astaghfirulloh

Semoga Alloh selalu memberkahi kedua orangtuaku, dan mengampuni dosa2nya, menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi qt di waktu kecil..aamiin

In Curhat

Sukses untuk Para Peserta Ujian Nasional

 - 

Besok mungkin hari yang paling mendebarkan bagi para siswa kelas 3 SMA. Karena selama 4 hari sejak 18-21 April 2016 akan dilaksanakan ujian Nasional SMA secara serentak. Ujian Akhir ini tentu saja sangat mendebarkan karena menentukan kelulusan para siswa untuk lulus dan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sistem ujian Nasional ini pertama kali dilaksanakan di angkatan saya, yakni tahun 2003. Saat itu batas minimal kelulusan adalah 3,00 dan sistem ini baru di umumkan 3 bulan sebelum ujian akhir berlangsung. Saya masih sangat ingat karena saya stress banget belajarnya. Hehehe.

Alhamdulillah, akhirnya 3 mata pelajaran pokok (saya mengambil jurusan IPA), yakni B.Indonesia, B.Inggris, dan Matematika yang dinilai Dinas Pendidikan Provinsi dan mata pelajaran lainnya yang dinilai sekolah bisa saya lalui dengan hasil memuaskan. Saya ingat, betapa deg-degannya saya menunggu Pak Pos yang akan membawa surat lulus atau tidaknya saya. Ujian Nasional telah membuat saya tidak nafsu makan, lesu, dan juga lain-lain..Hehe

Yah, buat adik-adik….Semoga sukses ya, belajarlah yang sungguh-sungguh, kerjakan soal-soal dengan tenang dan baik, jangan menyontek dan selalu berlaku jujur. Semoga semuanya mendapat kelulusan dan hasil memuaskan. Dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai harapan dan cita-cita kalian. Raihlah cita-cita kalian setinggi langit. Terus maju, anak muda, untuk membangun negeri ini. Sukses

In Sukses